blablabla part3 (rencanakan dengan teliti)

January 28th, 2008 by iyud

Wawan, mahasiswa interior tingkat akhir (wawan adalah oknum yang sama dengan cerita sebelumnya, restu mbah) sedang dalam kondisi super sibuk. Maklum, ini akhir semester, deadline tugas perancangan sudah semakin dekat. Laporan, gambar kerja, gambar teknik, dan maket adalah pernak-pernik tugas perancangan yang harus segera diselesaikan dan dikumpulkan.

Dengan konsentrasi tinggi, wawan mulai mengerjakan semua pernak-pernik tugas perancangan tadi, mengurung diri di dalam kamar. Hampir selama 3 hari lebih wawan mengurung diri di dalam kamar, hanya keluar kamar untuk babk (buang air besar/kecil), membeli makan, membeli bahan dan peralatan. Mandi sudah terlupakan, turun ke tingkatan prioritas terbawah.

Ahirnya hari h pun tiba. Tepat pukul 8 delapan pagi, wawan sudah menyelesaikan semua tugas. Adapun waktu pengumpulan adalah jam 9 pagi, artinya wawan masih memiliki waktu 1 jam untuk bersih-bersih diri (setelah berhari-hari tidak mandi) dan berangkat ke kampus.

Tepat pukul 8.45, segala persiapan sudah selesai. Putra, teman yang akan membantu membawa maketpun sudah tiba.Wawan siap berangkat ke kampus.

"Oke, saatnya berangkat!"

Dengan tas ransel di pundak, gambar kerja dan gambar teknik di tangan kanan, wawan mulai mencoba mengangkat maket. Gambar kerja dan gambar teknik yang ada di tangan kanan diletakkan di bawah maket, dan diangkat bersama-sama dengan maket.

"Hup!", maket mulai terangkat. Wawan mulai berjalan ke arah pintu, dan …

"duk", suara maket wawan bertabrakan dengan pintu.

Ternyata maket wawan lebih besar dari pintu, baik panjang maupun lebarnya, semua lebih panjang dari ukuran pintu. Tidak kehilahan akal, wawan coba memiringkan posisi maket.

"duk" lagi-lagi maket wawan bertabrakan dengan pintu! Maket bangunan 3 tingkat itu (3 tingkat!!!) ternyata memiliki tinggi yang lebih panjang dari lebar pintu.

"Yaopo iki?" wawan mulai cemas.

"Di miringkan aja wan, posisi diagonal" saran Putra, masih belum kehilangan akal rupanya.

"Duk", lagi2 tidak cukup!

Jam udah menunjukkan pukul 8.50, Wawan mulai panik! Segala posisi dan konfigurasi dicoba kembali.

"Duk", "Duk", "Duk", berulang kali maket bertabrakan dengan pintu.

Wawan ahirnya dipaksa untuk dapat menerima kenyataan pahit bahwa ukuran maketnya (segala sisi, panjang, lebar, tinggi dan diagonal) lebih besar dari ukuran pintu kamarnya dan melaksanakan solusi ahir yang (juga) pahit, yakni membongkar ulang maketnya.

Walhasil, wawan pun telat mengumpulkan tugas

blablabla part2 (belum saatnya kawan)

July 16th, 2007 by iyud

Restu mbah

Wawan, Putra, Ongga, 3 sahabat mahasiswa interior tingkat awal (yang tentunya nama mereka sudah saya samarkan) sedang kejatuhan ‘durian’.

Mereka mendapat proyek dengan jumlah yang lumayan besar, entah itu puluhan atau ratusan juta, yang jelas nominalnya besar!

"Ndeloen ngga, mari iki hpku ganti!"

"N gage!"

"Oyi-oyi, aq yo bakal tuku komputer anyar"

"Gak jamannya lagi, nyilih-nyilih komputere arek2"

"Aku sisan, mari iki bayar SPP sendiri, gak usah ngrepoti orang tua maneh!"

Barang-barang dan kebutuhan yang saya sebutkan di atas adalah barang-barang yang terbilang cukup mewah untuk 3 sahabat itu, terlebih pada masa itu.

Akhirnya, dengan semangat 45, mengebu-gebu, proyek inipun mereka kerjakan bermingu-minggu. Tentunya dengan harapan dan ekspektasi besar, proyek ini tembus.

Hingga suatu saat Wawan memutuskan untuk pulang kamung sejenak, "Sek yo rek, aq pulang dulu, mau minta restu mbahku!"

"Ok-ok wan, cepet balik lo ya, kerjaan masih banyak!" jawab Ongga.

"Jangan lupa oleh-oleh!"

Setelah beberapa hari pulang, Wawan datang dengan membawa beberapa ‘oleh-oleh’, bukannya makanan atau logistik lainnya, tapi membawa kemenyan dan seperangkat sesajen!

"Opo iki wan?"

"Wes ta, iki kata-kata orang tua!"

"Biar proyek kita tembus!"

"He?"

"Wes ta, nurut ae"

Putra dan Ongga pun nurut-nurut saja, malas berdebat terlalu panjang karena niscaya akan memakan waktu lama dan tidak berujung, padahal waktu semakin sempit. Alhasil merekapun harus rela untuk bekerja bersama aroma-aroma aneh yang dikeluarkan kemenyan itu.

Singkat cerita, hari H datang, dan tawaran merekapun …

ditolak.

Reaksi yang timbul dari 3 sahabat ini bermacam-macam, mulai dari kecewa, berusaha legawa dan menggambil hikmah dan …

saling menyalahkan.

"Koen si Wan, ini semua salahmu" Ongga mulai menyalahkan Wawan

"Lha, kok bisa?"

"Ya koen iku, pulang kelamaan, jdnya gak sempurna"

"Ya, gak to, aq pulang kan minta restu" jawab Wawan

"Iki kabeh yo salah koen-koen sisan!"

"Kok bisa?" jawab Putra dan Ongga

"Iya, Koen nyalain meyannya gak rata!"

gerakan anti kemapanan!

June 30th, 2007 by iyud

‘Gerakan anti kemapanan’ dalam hal ini bukanlah berarti gerakan anti kemapanan secara finansial. Tidak dilarang, untuk mapan secara finalsial, untuk menjadi kaya, untuk berkecukupan secara materi. Kenyataannya, dengan materi dan finansial yang berkecukupan, lebih dari apa yang kita butuhkan, maka akan semakin banyak orang yang dapat kita bantu (dalam hal materi). Tentu saja hal ini hanya terjadi jika kita bisa lolos dari cobaan/godaan materi tadi, tidak menjadikan harta, uang, atau materi apapun itu sebagai ‘tuhan’.

Yang saya maksudkan dari gerakan anti kemapanan adalah gerakan untuk tidak terjebak dalam sebuah kondisi ‘mapan’, sebuah zona aman dimana kita telah merasa ‘cukup’.

Merasa telah cukup berpengetahuan, cukup untuk mengetahui segalanya, cukup untuk merasa paling pandai,cukup untuk merasa paling benar, yang akhirnya akan membuat kita enggan untuk belajar lagi, katak dalam tempurung!

Sungguh betapa besar makna dari perkataan baginda Rasulullah, untuk terus belajar setiap saat, belajar mulai dari ayunan hingga liat lahat, belajar dari siapapun dan kapanpun,dimanapun (dalam perkataan Rasulullah hingga ke negeri cina sekalipun).

Musuh terbesarnya adalah diri kita, ego kita. Seiring dengan semakin bertambahnya usia, semakin tingginya pendidikan, semakin tingginya derajat sosial, semakin banyak prestasi yang diperoleh, semakin banyak pengalaman yang didapat, semakin besar pula ego kita untuk merasa paling benar, terjebak dalam kondisi ‘mapan’.

Lantas apa cara kita untuk melawan kondisi ‘mapan’ ini?

Ini adalah sebuah perjuangan tanpa akhir (ingat, sampai akhir hayat), dan cara yang ditempuh tiap orang tidaklah sama. Yang jelas, jangan pernah untuk merasa pandai, tapi teruslah untuk menjadi orang ‘bodoh’.

nb : Suatu hari saya pernah mendikusikan hal ini dengan dosen saya dan jawaban beliau adalah,"Inilah alasan saya mengapa saya memilih profesi seorang dosen, karena saya bisa terus belajar"

Kemudian dengan seorang teman dari ‘Rakyat Kuasa’, dari teman inilah kemudian saya menemukan nama gerakan anti kemapanan.

past

December 19th, 2006 by iyud

People shouldn’t dwell on the past
It’s enough to try your best in all that you are doing now

Kitou aya

blablabla

November 18th, 2006 by iyud

bualan pengantar tdr, lumayan bwt dikenang!

hikayat untuk si upik

November 6th, 2006 by iyud

Terpikir saja, mengingat saya rasa tradisi yg baik ini sdh smakin hilang, bahwa saya ini ingin dapat bercerita d epan anak2 saya nanti,mendongeng, mengantar dia tidur mungkin. untuk itu tentunya saya harus punya banyak perbendaharaan cerita.sdh ada beberapa d kepala, tp mungkin akan suatu saat akan terlupa sebelum dapat diceritakan.akan saya coba tulis!

juga mohon bantuannya, siapa tahu situ punya cerita bagus yg layak d ceritakan kepada anak2 saya nantinya, bisalah coba d posting d sini!

tentunya cerita-serita yang genah, yang bs menanamkan nilai2 luhur (mantab tenan).

November 6th, 2006 by iyud

cantik, dia sangat cantik!

dan aq mulai takut untuk kehilangan dia …

surga dunia

October 14th, 2006 by iyud

Tidur beralas ponco dan berbantal carier, mengamati suasana fajar di lautan pasir bromo, sendiri.
Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah pasir dengan latar belakang kaldera tengger dan gunung semeru yang hitam membiru.
Tenang, sepi, dingin, damai….
Sejenak kesunyian ini dipecahkan oleh lewatnya rombongan penduduk Tengger, mengendarai kuda, wajah dan badan tertutup sarung, dituntun oleh anjing-anjing mereka, pergi entah kemana.
Menyaksikan langit yang perlahan menjadi emas dan membiru dengan awan yang senantiasa berubah bentuk, mencoba menerka-nerka bentuk apakah itu.
Takut, takjub, kecil (seolah diri tdk berarti apa-apa)…

jgn terlanarkan anak!

September 20th, 2006 by iyud

Pagi ini, pukul 00.30, aq menemukan sebuah pemandangan yg cukup menyesakkan hati.Seorang anak usia 8-10 tahun sedang "bermain", tdk dgn orang2 yang melihat n memperhatikan d sekelilingnya, tp dgn dirinya sendiri!

Bertingkah, berkomunikasi dengan cara-cara yang diketahui hanya oleh dirinya sendiri. Ia tdk cukup memahami bahasa2 verbal, hanya dgn bahasa2 non vebal orang2 d sekililingnya dpt berkomunikasi dgnnya, seperti anggukan atau gelengan kepala, lambaian tangan, kepalan tangan, dll.

entah karena ia tunarungu, gila, atau mmg karena tdk pernah ada yang merawatnya selama ini.makanan yg diberikan oleh seorang tukang soto kepadanya tdk ia makan sama sekali, hanya dibuat mainan. lagi-lagi entah karena ia mmg tdk lapar, atau karena ia tdk tau kalau yg d depannya itu makanan.

Benar2 menyesakkan hati untuk melihat seorang orang yg belum genap berusia 10 tahun, tanpa pakaian yang pantas, badan yg kurus, berkeliaran di tengah malam, "bermain" di antara para supir2 truk, tukang becak, satpam n purel, …

sendiri!

kondisi kejiwaan yg sama sekali tdk dpt aq pahami (sama sekali tdk terlihat rasa khwatir dan ketakutan d matanya bahwa d sekitarnya tdk ada orangtua, saudara, atau orang yg ia kenal)

ia terlihat cukup ceria walau terkadang sorot matanya mengatakan bahwa ia kesepian.

wajah petani kita

February 9th, 2006 by iyud

    salah satu gambaran kehidupan petani kita, memang benar adanya kalau ini hanya satu contoh kasus, mungkin ada yang lebih beruntung, tapi  bukan berarti harus diabaikan.
    kurang lebih dua puluh tahun sudah, atau setidaknya selama itu yang saya ingat, keadaan rumah itu sama sekali tidak berubah. lantai tanah namun selalu bersih (terkadang masih terlihat bekas2 goresan sapu lidi menandakan baru saja dibersihkan), dinding dari anyaman bambu yang dilapisi kapur putih tebal , tidak begitu putih memang, atap genteng yang warnanya sudah menghitam, satu dua diantaranya transparan (terbuat dari kaca atau plastik saya juga tidak pernah tahu), tempat masuknya cahaya matahari sebagai sumber penerangan ruangan, ruang tamu dengan kursi-kursi tuanya serta sebuah ranjang besi lengkap dengan klambunya, nyaris tidak ada perubahan. gambar burung garuda pancasila yang diapit foto presiden dan wakil presiden negeri ini juga masih ada. setelah kejatuhan orba, sempat tepikir bahwa saya tidak akan menemui lagi foto presiden beserta wakilnya ini, dan ternyata, saya salah! walau foto "bapak pembangunan" sudah terpampang cukup lama, namun begitu presidennya berganti, fotonya juga berganti, hingga sekarang, ketika saya menemani orang tua saya bersilaturahmi ke salah satu saudaranya ini, paman saya juga. walau ia paman saya, namun wajahnya terlihat jauh lebih tua dari ayah saya, rambut hanya beberapa saja yang masih hitam, kulit coklat keriput namun penuh otot, tangan penuh kapal, mata coklat yang sudah mulai memudar, pipi cekung karena kebanyakan merokok.
    kedamaian di sana, tentram, sejuk.
    dari pembicaraan mereka, saya mulai mengetahui bagaimana menyedihkannya keadaan petani kita. saya tidak begitu banyak masuk dalam percakapan ini, berhubung dalam bahasa jawa kromo inggil. terkadang saya tidak paham sama sekali apa yang dibicarakan, jadi bagaimana saya mau ikut berbicang, terlebih saya hanya bisa bahasa jawa ala surabayaan, mau bicara berbahasa indonesia juga "sungkan", takut tidak sopan.harga pupuk dan obat yang terus naik, untuk mendapatkan air harus melalui kud yang artinya harus membayar, sedangkan harga gabah juga tidak  begitu tinggi, "dipermainkan" tengkulak dan pasar. di tambah lagi kita akan mengimpor beras, harga akan semakin jatuh, kesejahteraanpun akan semakin jauh.
    walau demikian adanya, tidak pernah terlihat sebuah keputusasaan, kebencian. yang ada hanyalah keyakinan, harapan, keihklasan. berjuang sekuatnya untuk menghidupi keluarga, untuk mendidik anak dan kini cucu-cucunya, tetap yakin dan percaya bahwa pemerintah akan  tetap mensejahterakan seluluh rakyatnya, akan membawa negeri ini ke arah yang lebih baik.

    akankah harapan ini terjawab?